Cerpen Sedih
pemeran : Ayana,Deny,Sakina,Mama,Papa, Dan teman-teman
Kubuka mataku dari belaian
hangat mimpi yang indah.
Senyum menghiasi wajahku
yang berseri. Bergegas
kubereskan tempat tidurku dan
berlari keluar. Kulihat seperti
biasa, mama sedang memasak
didapur.
“Pagi ma! Emmuach!” sapaku
sambil mencium pipi mama.
“Pagi Ayana. Selamat ulang
tahun ya?” kata mama sambil
membelai rambutku.
“Makasih ma! Buat kadonya,
aku minta liburan ke Bandung ya ma!”
“Iya! Nanti kita kesana
sekeluarga! Kamu cepet mandi
gih. Ntar telat sekolah lho…”
“Iya ma.” kulempar senyum
manisku dan bergegas ke
kamar mandi.
Setelah semuanya siap, aku
berjalan menuju meja makan.
Disana sudah ada papa, mama,
kak Deny dan kak Sakina. Saat aku
akan duduk, kulihat ada sebuah
bingkisan kado ditempat duduk
yang biasa aku gunakan.
Karena senangnya, langsung
kubuka bingkisan kado itu.
“Wah, apa ini?”
“Buka aja sendiri!” sahut kak
Sakina. Ternyata itu kado dari kak
Sakina. Sebuah sweater berwarna
ungu, sama seperti warna
favoritku.
“Kalo dari kakak besok aja ya?”
kata kak Deny sembari melahap
sarapannya.
“Iya kak. Wah, kak Sakina kok bisa
tahu kalo Ayana pengen sweater
sih?” kutatap wajah kak Sakina.
Wajahnya nampak pucat dan
lesu. “Kak Sakina sakit ya?” lanjutku.
Entah mengapa ekspresi semua
keluargaku menjadi kaget dan
bingung mendengar
pertanyaanku.
Namun papa segera menjawab,
“Nggak. Paling kakakmu itu
cuma kecapekan.”
Setelah selesai sarapan, papa
mengantarkan aku dan kak Sakina
berangkat sekolah. Sedangkan
kak Deny naik sepeda motor
karena ia sudah kuliah. Dimobil,
tak seperti biasanya. Kak Sakina
memelukku. Aku pun membalas
pelukannya. Tiba-tiba ia
membisikkan sesuatu padaku.
“Kakak sayang sama Ayana.
Selamat ulang tahun ya?” kak
Sakina memang dari dulu dekat
denganku. Ia selalu ada
untukku. Ia bahkan
menyayangiku lebih dari
apapun. Bahkan ia rela terluka
demi aku.
Kurasakan air mata kak Sakina
menetes. Wajahnya masih pucat
dan matanya terpejam.
“Kakak kenapa?” tanyaku
sambil mengusap air matanya.
“Kakak tidak apa-apa. Kakak
hanya ingin memeluk Ayana
dengan erat. Ini kan hari spesial
Ayana!”
Mobil yang membelah jalanan
kota Jakarta itu berhenti
disekolah kak Sakina. Kak Sakina
melepas pelukannya dan
menciumku. Setelah kak Sakina
turun, mobil kembali dipacu
menuju sekolahku.
“Kak Sakina kenapa ya?” gumamku.
10 menit kemudian sampailah
digerbang sekolahku.
Kuberikan salam untuk papa.
Dan mobil papa pun hilang di
balik tikungan sesaat setelah
papa memberi lambaian
tangannya.
“Hai Ayana! Selamat ulang tahun
ya?” sapa teman-temanku.
Mereka semua memberiku
kado, hingga tasku penuh
rasanya. Ada juga cowok yang
memberiku bunga mawar dan
cokelat. Wah, senangnya.
Saat pulang sekolah, aku
menunggu taxi. Akan tetapi, tak
ada satupun yang lewat. Tiba-
tiba muncullah Andri, sahabatku,
yang menawariku tumpangan.
Aku ikut saja, toh dari tadi tak
ada taxi yang lewat.
“Makasih ya Dri buat
tumpangannya!” kataku
sesampainya digerbang rumah.
“Sama-sama. By the way,
rumahmu kelihatan sepi ya?”
“Iya, tumben. Mungkin kakakku
belum pulang. Mau mampir?”
“Nggak usah. Aku pulang dulu
ya?”
“Iya, hati-hati.” kataku sambil
menepuk pundaknya.
Kubuka gerbang yang terkunci
dengan kunci cadangan yang
kubawa. Ternyata pintu rumah
juga dikunci.
“Kok aneh? Tumben pintu pada
ditutup. Mama kemana ya?”
gumamku. Setelah kucari seisi
rumah, tak ada seorangpun
disana. Perasaanku mulai tak
enak. Aku coba telepon mama
berulang kali, tapi tak diangkat.
Begitu juga papa dan kak Sakina.
Akhirnya kuputuskan untuk
menelepon kak Deny.
“Halo kak Deny?” kataku saat
teleponku dijawab olehnya.
“Ya halo Ayana. Sebentar lagi
kakak jemput kamu. Tunggu
ya?” sahut kak Deny yang
langsung menutup teleponnya.
“Ada apa ini? Semua tak seperti
biasanya. Apa maksud kak Deny
mau menjemputku? Kenapa
suaranya parau? Memangnya
semua orang kemana?”
tanyaku kebingungan sambil
menunggu kak Deny.
25 menit kemudian motor kak
Deny sampai didepan gerbang.
Hatiku sedikit lega.
“Cepat kunci pintu dan naik
motor kakak!” perintahnya. Aku
tak berani bertanya apa pun
padanya. Wajahnya nampak
kacau dengan bekas tangisnya.
Aku bergegas naik motor kak
Deny sambil membawa tas yang
penuh kado ini. Aku ingin
menunjukkannya pada kak Sakina.
Siapa tahu kak Sakina juga ada
disana.
Aku bingung. Sangat bingung.
Kenapa kak Deny membawaku
ke rumah sakit?
“Kakak nggak salah tujuan kan?
Kenapa kita kerumah sakit?”
tanyaku.
“Kamu tunggu disini. Kakak
mau ke resepsionis sebentar!”
Kami berjalan menuju ruang
ICU. Kulihat dari kaca pintu,
kuingin tahu siapa yang ada
disana. Bagai disengat listrik
ratusan volt. Aku melihat kak Sakina
tengah berbaring disana. Air
mataku pun menetes. Aku
melihat kak Deny sedang duduk
melamun disamping mama dan
papa. Aku menghampiri
mereka dan....
Bersambung...
Sekian dulu yah cerpen hari ini nanti akan di lanjut!.